Kamis, 06 Juni 2013

"Senja Kuning"

Semilir angin mendayu air yang mengalir pelan. 


Aku nikmati tiupan angin sore ini. Menikmati waktu yang entah sampai kapan bisa ku nikmati dengan tenang. Aku rindu lapangan hijau tempat ku mencari bunga liar untuk ku rangkai menjadi sebuah buket bunga indah. Ku persembahkan hanya untuk kamu.
Sore ini tak ku dapati kamu duduk disampingku seperti waktu yang sudah kita habiskan bersama. Sekarang aku duduk sendiri dibawah pohon rindang ini. Teguh menjagaku dari panas yang membakar hati. Karena rindu yang tak terbendung.
Aku duduk menatapi air yang mengalir tenang di hadapan ku. Sedikit riak terbentuk karena angin yang bertiup sepoy. Sendu dan tenang menjadi tema sore yang kuning keemasan.
Gelak tawa anak kecil yang berteriak riang dan alunan lagu yang silih ganti dari handphone keramat. Aku duduk disini menggenggam sepotong janji yang terbentuk dari cinta dan sayang untuk kamu seorang.
Aku diam menghayati hidup yang diam dan terus mengalir bagaikan air di hadapan ku. Sungai kecil yang berlanjut ke danau kecil di sebelah hulu. Aku nikmati senyum kamu dan mengingat rasa perih kehilangan kamu.
Cinta. Kata yang ku ucapkan kepadamu dan ku bisikkan tiap malam disetiap sela suara kamu yang tak terbendung waktu. Aku tak hilang akal demi dirimu ku habiskan seluruh hayat untuk katakan cinta..
Langit yang berwarna keemasan di sebelah kiri ku menunjukkan tanda bahwa mentari ingin istirahat. Setelah seharian menyinari pohon rindang ini. Ku lirik warna mentari di pantulan air yang membuat hanyut dan tenang siapapun yang melihatnya. Andai ku siapkan diriku sejak dulu untuk hidup yang tak pasti ini. Tapi nikmatnya kuning yang merindukan malam. Tak mungkin ku lewati.
Aku rindukan bersandar di bahu kamu. Nikmati wangi rambut panjang kamu dan bau tubuh kamu yang selalu ku sukai. Aku rindui semua hal yang bernafaskan kisah kita.
Selalu aku ingat di sore indah itu kita duduk berdua menikmati senja kuning yang ditiupi angin sepoy menghadirkan senja tentram.
Bagaikan kisah cinta klasik yang tak pernah putus dari renda-renda benang puitis. Aku merumitkan kata agar kamu mengerti arti kisah cinta kita.
Kamu yang selalu duduk di sebelah kiriku. Duduk temani aku dibawah pohon. Duduk di pagar pembatas. Duduk di pinggiran trotoar jalan. Duduk di bangku senja. Duduk di lapangan hijau. Duduk di teras resto. Duduk di gemerlap ruang. Duduk di manapun aku ingin.
Kamu tak pernah berkata apapun untuk hobi ku yang suka duduk dimana saja. Sekalipun aku duduk di emperan toko dengan tampang memelas dan pakaian yang sengaja ku buat kucel. Aku yang dengan sengaja menjadikan diriku seperti gembel untuk mengetahui dunia bawah yang sederhana dan indahini.
Kamu selalu tersenyum melihat aku yang tak pernah dewasa dan tak bosan melucu agar kamu selalu tersenyum dan semakin mencintai aku. Walaupun kita sedang di liputi berbagai masalah hidup yang menghampiri.
Aku rindui kamu.
Senja kuning keemasan ini aku duduk di bawah pohon baru di tempat yang terbentang ribuan pulau diseberangi samudra biru.

0 komentar:

Posting Komentar